Kamis, 16 Juni 2011

Laporan Pratikum PENGARUH BERAGAI MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK


Laporan Pratikum
PeNGARUH BERAGAI MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK














Oleh :
KELOMOK I
SUHARYADI
AGUS PRIYONO
NURHIDAYAT





FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MAHAPUTRA MUHAMMAD YAMIN
SOLOK 2011





KATA PENGATAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil pratikum ini sesuai dengan kemampuan  yang penulis  miliki.
Dalam menyelesaikan laporan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Karena tanpa dukungan dan bantuan semua pihak kami tidak mungkin bisa menyelesaikan laporan ini dengan baik.
Atas bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak dalam menyelesaikan laporan ini penulis ucapkan terima kasih dan iringan doa kepada Allah SWT semoga diberikan balasan pahala atas bantuan tersebut.
Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kesalahan penulis  dalam penulisan laporan ini, baik di sengaja maupun tidak disengaja dan Penulis sangat mengharapkan masukan berupa kritik dan saran dari pembaca. Penulis juga berharap semoga laporan pratikum ini bermanfaat bagi pembaca hendaknya.       


                                                                                   Solok, 4 Februari 2011
                                                                          


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organic, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industry, serta limbah pertanian dan perkebunan.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material organ yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan baku pengomposan.
Phillodendron adalah tanaman hias yang menampilkan bentuk dan warna daun,hingga cocok untuk untuk dipakai penghijauan dan hiasan di dalam maupun di teras rumah. Ada juga yang dibuat taman, karena tidak semua phillodendron tahan terhadap sinar matahari langsung (minta naungan).
Sansevieria sangat banyak jenisnya lebih dari 200 jenis species belum lagi jika ditambah dengan jenis hibrid. Oleh karena itu para hobbies banyak yang tertarik dengan tanaman hias Sansevieria. Tanaman ini mempunyai beragam bentuk daun, beragam ukuran dan beragam motif daun.
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui media pertumbuhan stek yang cepat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara. DKI Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh seluruh pasar yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik. Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005).

Manfaat Kompos

Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
  1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
  2. Mengurangi volume/ukuran limbah
  3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
  1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah
  2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
  1. Meningkatkan kesuburan tanah
  2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
  3. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah
  4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
  5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
  6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
  7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
  8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah diantaranya merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga mempengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur, 1980).
Beberapa studi telah dilakukan terkait manfaat kompos bagi tanah dan pertumbuhan tanaman. Penelitian Abdurohim, 2008, menunjukkan bahwa kompos memberikan peningkatan kadar Kalium pada tanah lebih tinggi dari pada kalium yang disediakan pupuk NPK, namun kadar fosfor tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan NPK. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman yang ditelitinya ketika itu, caisin (Brassica oleracea), menjadi lebih baik dibandingkan dengan NPK.
Hasil penelitian Handayani, 2009, berdasarkan hasil uji Duncan, pupuk cacing (vermicompost) memberikan hasil pertumbuhan yang terbaik pada pertumbuhan bibit Salam (Eugenia polyantha Wight) pada media tanam subsoil. Indikatornya terdapat pada diameter batang, dan sebagainya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik tidak memberikan efek apapun pada pertumbuhan bibit, mengingat media tanam subsoil merupakan media tanam dengan pH yang rendah sehingga penyerapan hara tidak optimal. Pemberian kompos akan menambah bahan organik tanah sehingga meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan mempengaruhi serapan hara oleh tanah, walau tanah dalam keadaan masam.
Sanseveria
Nama Latin : Sansevieria
Famili : Agavaceae
Habitat :
- Tumbuh Baik didataran : Tinggi,  rendah
- Kebutuhan air : Sedang
- Kebutuhan Cahaya : Banyak, Sedikit (Tergantung jenis)
Hingga saat ini, sedikitnya telah ditemukan sekitar 60 spesies sansevieria dengan 800 varietas dan kultivar. Kultivar sansevieria bisa terbentuk secara alami maupun dengan rekayasa manusia. Jumlah kultivar yang ada hingga saat ini akan terus bertambah mengingat semakin banyak dilakukannya proses hibridasi dan mutasi. Tidak mustahil pula sudah ditemukan lagi spoesies baru di alam.
Hibridisasi merupakan proses perkawinan silang antar kultivar atau subspesies, antar spesies, antargenus, atau anatarfamili. Keturunan yang dihasilkan disebut hybrid atau hibrida. Sifat hibrida berbeda dengan tanaman induk, bahkan bisa menjadi spesies atau kultivar baru. Hibridisasi bisa terjadi secara alami maupun buatan. Hibridisasi alami bisa terjadi denagn bantuan angin atau serangga. Sementara itu, hibridisasi buatan dilakukan oleh para breeder atau pemulia tanaman.
Mutasi Sansevieria sangat mudah mengalami mutasi. Pasalnya, tanaman ini memiliki gen yang tidak stabil. Terutama pada sansevieria trifasciata. Pada sansevieria, mutasi sering disebut dengan 'chimera'. Perubahan yang terjadi menyangkut warna daun, corak warna daun, atau bnetuk daun. Anakan tanaman yang mengalami mutasi, sama halnya dengan hibrida, bisa menjadi kultivar atau spesies baru. Mutasi pada sansevieria bisa bersifat sementara, bisa juga permanen.
Hama
Siput

Siput yang telanjang atau yang berumah akan menyerang bagian daun, bahkan akar tanaman. Gejalanya mudah dikenali, karena tampak adanya bekas gigitan pada daun dan kotoran yang berserakan di sekitar tanaman. Siput aktif menyerang sansevieria pada malam hari. “Pada umumnya, pemberantasan hama ini bisa dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengambil dan membuang siput yang umumnya berada di bagian bawah daun. Akan tetapi, bila serangannya cukup hebat, dapat digunakan melusida Metaphar atau Moluskil dengan dosis sesuai anjuran.

Thrips
Selain siput, hama jenis thrips juga sering menyebabkan kerusakan yang parah. Hama jenis ini menghisap cairan tanaman, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Di Indoensia, thrips yang menyerang biasanya dari jenis Herciotrips Feronalis. Hama ini biasanya akan menyerang pada musim kemarau. Thrips dapat diberantas dengan Kelthane, Tracer, atau Supracide dengan dosis sesuai anjuran.

Penyakit
Penyakit yang menyerang sansevieria umumnya merupakan gangguan yang diakibatkan oleh adanya patogen atau jasad renik yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Busuk lunak (becterial stem rot)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Erwinia Carotovora yang menyerang daun atau akar tanaman, terutama menginfeksi melalui luka yang menganga. Daun atau akar yang terserang tampak berwarna kecoklat-coklatan dan terasa lunak bila dipegang, berlendir, serta berbau tidak enak, dan lama kelamaan akan berubah seperti bubur.
Penyakit ini muncul apabila kondisi tanaman lembab akibat hujan yang terus menerus dan kurang cahaya. Patogen ini cepat menyebar melalui perantara air, serangga, tangan, alat pertanian, ataupun pakaian pekerja.
Cara mengatasi serangan patogen ini adalah dengan memangkas bagian yang terkena serangan dan mengolesinya dengan Na-hipoklorit (Clorox), serta membakar bagian yang terkena serangan. Sementara, untuk mencegah serangan bagian lainnya digunakan bakterisida Agrept sesuai dosis anjuran.

Busuk akar
Busuk akar disebabkan oleh jamur Aspergillus niger. Jamur ini muncul apabila kondisi media tumbuh terlalu basah. Apabila jamur ini telah menyerang, satu-satunya cara agar serangan tidak meluas adalah sebagai berikut :
Angkat tanaman dan potong akar yang busuk. Akan terlihat kumpulan spora jamur yang berwarna coklat kehitam-hitaman.
Cuci perakaran sampai bersih dan rendam sebentar dalam larutan fungisida (misalnya : Aliette dengan dosis sesuai anjuran dan labelnya).
Tanaman dalam media baru.
Bakar media yang lama, karena telah tercemar spora jamur.

BAB III
 BAHAN DAN METODE

1.      Tempat Dan Waktu
Pratikum ini dilaksanakan  di kompleks Universitas Mahaputra Muhammad Yamin pada  tanggal 18 desember201 - 2 February 2011. Wib.

2.      Bahan Dan Alat
1.      Bahan
ü  Tanah
ü  Pupuk Kompos Sampah
ü  Daun Dendrum
ü  Batang Sanseveira
ü  Rootone
ü  Air

2.      Alat
ü  Seed Bag
ü  Pisau
ü  Tempat Aqua Gelas
ü  Ember
ü  Alat Ukur (Mistar/Pengaris)

3.      Cara kerja
1.      Pembuatan media
ü  Pupuk kompos sampah organic dan tanah dicampur menjadi satu selanjutnya diaduk supaya pupuk dengan tanahnya merata.
ü  Selanjutnya dimasukan kedalam seed bag.
2.      Cara pembuatan pasta rootone
Roontone di masukan kedalam tempat aqua gelas ditambahkan dengan air secukupnya dan diaduk sampai mebentuk seperti pasta.
3.      Pembuatan Bibit
Batang sanseveira dan daun denrum dioleskan dengan pasta rootone pada bagian tempat dimana akar akan tumbuh. Pasta rootone ini berfungsi sebagai pemicu/peransang pertumuhan akar. Selanjutnya Batang sanseveira dan daun dendrum dimasukan ke  media tanam yang sudah di siapkan dan disiram dengan air.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.      Hasil
Hasil pengamatan pertumbuhan dari stek daun dendrum
Kelompok I
Sampah Organic
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar (cm)
1
1
2
4
2
2
2
4
5
3,5
3
3
-
7
5,8
4
4
1
6
3,1
5
5
1
5
3,8
6
6
-
8
3,8
7
7
5
3
2,6
8
8
2
9
6,1
9
9
2
8
5,3

Kelompok II
Kotoran Kuda
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar (cm)
1
1
-
7
4,5
2
2
2
8
4,5
3
3
-
7
5,6
4
4
1
8
5,2
5
5
-
8
4,7
6
6
-
9
3,6
7
7
-
3
4,9
8
8
-
3
1,7
9
9
-
2
3,5


Kelompok III
Kotoran Sapi
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar (cm)
1
1
1
6
4,5
2
2
3
8
2,7
3
3
2
8
6,1
4
4
1
8
4,6
5
5
1
7
5,6
6
6
2
6
5,8
7
7
1
8
6,4
8
8
2
7
5,6
9
9
-
3
1,9

Kelompok IV
Kotoran Ayam
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar (cm)
1
1
1
6
5,5
2
2
2
10
6,5
3
3
4
7
4,5
4
4
3
12
3,5
5
5
2
10
4
6
6
1
9
5
7
7
3
7
4,7
8
8
1
3
1,5
9
-
-
-
-


2.      Hasil pengamatan stek batang sanseveira
Kelompok I
Sampah Organik
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar
1
1
2
-
-
2
2
-
-
-
3
3
-
-
-
4
4
-
-
-
5
5
-
-
-

Kelompok II
Kotoran Kuda
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar
1
1
-
-
-
2
2
-
-
-
3
3
-
-
-
4
4
-
-
-
5
5
-
-
-

Kelompok III
Kotoran Sapi
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar
1
1
2
-
-
2
2
-
-
-
3
3
-
-
-
4
4
-
-
-
5
5
-
-
-


Kelompok IV
Kotoran Ayam
No
Sampel
Bakal akar
Jumlah akar
Panjang akar
1
1
-
1
1,2
2
2
-
1
1,3
3
3
-
10
4,2
4
4
-
-
-
5
5
-
-
-


Pembahasan

Dari hasil pengamatan di atas dapat kita lihat hasil yang berbeda-beda dari semua jenis media yang berbeda terhadap pertumbuhan akar stek batang sanseveira maupun daun dendrum.
Untuk pertumbuhan akar dari stek daun dendrum pupuk kotoran ayam jumlah akarnya relative lebih banyak dari pada pupuk lainnya ini dikarnakan kandung N dari kotoran ayam 3 x lipat lebih tinggi dari kotoran ternak lainnya.
Pada pupuk sampah organik memiliki hasil yang seragam terhadap satu sampel dengan satu sampel lainnya. Dimana jumlah bakal akar yang banyak dari jumlah akar maka panjang akarnya lebih pendek begitupun sebaliknya kalaun jumlah akarnya banyak dari bakal akar panjang akarnya relative lebih panjang.
Sedangkan pada pupuk kandang atau kotoran ternak lain relative tidak menunjukan hasil yang berdeda.
Pada stek batang sanseveira pupuk kotoran ayam memiliki pertumbuhan akar yang lebih cepat dari pada yang lainnya. Sedangkan pada pupuk sampah organik baru menunjukan bakal akar. Pada pupuk yang lain atau media lainnya belum menunjukan hasil.  

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Dengan media yang berbeda akan menunjukan hasil yang berbeda pula.
2.      Perbedaan ukuran daun dan umur juga bisa memberikan hasil yang berbeda.

Saran – Saran
1.      Dalam melakukan Pratikum sebaiknya pakailah bahan dan alat yang sudah ditentukan serta sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan agar hasil yang diperoleh lebih memuaskan.
2.      Jagalah keselamatan, pada waktu melakukan pratikum. Mungkin pada waktu praktek kita ada yang memakai bahan -  bahan kimia serta jagalah keselamatan alat – alat labor yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

http://arzamitra.wordpress.com/2008/11/27/hobby-koleksi-sansevieria/. diakses tanggal 7 Februari 2011.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos. diakses tanggal 7 Februari 2011.
http://www.duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=5&infoid=20. diakses tanggal 7 Februari 2011.
http://www.toekangkeboen.com/artikel.html?action=detail&id=475. diakses tanggal 7 Februari 2011









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar